Home PARLEMEN DPR Kasus PCC, DPR Minta Aparat Buka Keterlibatan Pejabat

Kasus PCC, DPR Minta Aparat Buka Keterlibatan Pejabat

INDONESIADAILYNEWS.CO -

Anggota Komisi III DPR RI Muslim Ayub meminta aparat tidak hanya melakukan proses hukum terhadap Ronggo alias Sri Anggoro dan rekannya Joni, terkait kasus pil paracetamol caffeine carisoprodol (PCC).

“Saya harap proses hukum tidak hanya dikenakan kepada kedua pelaku, atau intern para pekerja dan pemilik pabrik. Dibuka saja jika memang ada oknum lain yang terlibat. Jangan ada yang ditutupi,” ujar Muslim kepada wartawan di Jakarta, Kamis (07/12/2017).

Politisi PAN asal Aceh ini mengungkapkan pasalnya pil tersebut sudah diproduksi secara modern.

“Diproduksi bukan dengan cara tradisional lagi, mengapa sudah beroperasi lama dan bagaimana terkait perijinannya awal beroperasi seperti apa, fungsi pengawasan tidak berjalan dengan baik,” papar Muslim.

Selain itu jika memang terjadi kecolongan atau dalam hal ini pihak terkait lalai, lanjut Muslim tentu harus dipertanggung jawabkan. Karena kasus Pil PCC ini sudah berulang kali terjadi.

“Jadi pejabat terkait yang sering lalai, lebih baik mundur saja. Kasih kesempatan bagi mereka yang mau benar-benar bekerja,” kritik Muslim.

Sebelumnya Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap 18 pelaku produsen Pil PCC di Solo, Sukoharjo dan Semarang. Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso yang akrab disapa Buwas mengatakan mereka dikendalikan oleh Joni dan Sri Anggoro alias Ronggo.

Bahkan Ronggo disebut telah mengetahui bahwa akan ada penggerebekan, sehingga lelaki bertubuh gemuk itu berencana kabur ke luar negeri.

“Ronggo yang tinggal di Tasik, sudah tahu akan ada penggerebekan. Dia mau melarikan diri ke Singapura, tapi berhasil kita tangkap,” kata Buwas, sapaan Kepala BNN dalam jumpa pers di pabrik PCC Solo, Senin (04/12/2017).

Petugas BNN, kemudian menyita paspor milik Ronggo. Dari paspor itu, diketahui bahwa Ronggo berulang kali pergi ke China dan India. Diduga dia membeli bahan baku PCC dari negara tersebut.

“Dari paspor diketahui dia berkali-kali masuk China dan India. Bahan baku ini dari China dan India. Berarti Anggoro ini yang langsung belanja ke China dan India,” bebernya.

Sedangkan Joni, kata Buwas, diduga sebagai penyandang dana atau pemilik usaha. Dari bisnis haram ini, Joni mampu meraup penghasilan bersih Rp2,7 miliar per bulan.

“Kita menyita buku catatan produksi dan distribusi. Kita prediksi kasar, dalam sebulan Joni bisa mendapatkan Rp. 2,7 miliar. Itu diterima setelah dibagi-bagi dengan lainnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − 14 =