Home ekonomi Kepala Bappenas: Dorong Percepatan Pembangunan Dengan Pembiayaan Kreatif

Kepala Bappenas: Dorong Percepatan Pembangunan Dengan Pembiayaan Kreatif

INDONESIADAILYNEWS.CO -

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menekankan pentingnya pembiayaan kreatif atau ‘creative financing’ untuk mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di Tanah Air.

“Salah satu yang biasa menjadi hambatan dalam pembangunan infrastruktur adalah pembiayaan. Kita berharap ada banyak ide-ide kratif, kita harus bicara alternative atau creative financing dalam mendorong infrastruktur,” ujar Bambang saat membuka Indonesia Infrastructure Week (IIW) 2017 di Jakarta, Rabu (08/11/2017).

Bappenas memang terus mendorong pembiayaan investasi non anggaran (PINA) sebagai alternatif pembiayaan proyek-proyek infrastruktur yang tidak bisa hanya mengandalkan APBN.

PINA adalah mekanisme pembiayaan ekuitas untuk proyek investasi yang bersifat strategis dan prioritas, yang pendanaannya bersumber selain dari anggaran pemerintah dan pelaksanaannya didorong dan bisa difasilitasi oleh pemerintah. Program PINA hadir untuk mendorong keterlibatan pihak swasta baik dalam dan luar negeri untuk terlibat dalam proyek-proyek infrastruktur.

Selain itu, peluang pemanfaatan dana-dana kelolaan jangka panjang untuk masuk ke dalam pembiayaan ekuitas proyek infrastruktur yang memberikan imbal hasil yang optimal, juga terus didorong. Skema PINA saat ini telah berhasil diterapkan pada proyek pembangunan jalan tol milik Waskita Toll Road dengan nilai total Rp. 3,5 triliun pada Februari 2017.

Pembangunan infrastruktur dengan skema PINA juga menargetkan pada akhir 2017 membantu dalam pembangunan proyek bandara internasional Jawa Barat, beberapa dua ruas jalan tol Trans jawa, Jabotabek, dan luar Jawa, dan pada pembangkit listrik dengan energi, dengan nilai total sekitar Rp. 10 triliun.

Saat ini, beberapa proyek jalan tol dan pembangkit, sudah masuk di dalam pipeline PINA dan siap ditawarkan kepada investor luar negeri. Dalam perkembangannya, instrumen-instrumen keuangan baru juga diperkenalkan seperti reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) yang didorong dari proses inisiasi, penyesuaian regulasi dan sampai tahapan implementasi, sebagai salah satu dari contoh Creative Financing yang telah diarahkan Presiden Joko Widodo.

Bambang juga menyebutkan, stok infrastruktur Indonesia terhadap PDB berdasarkan data 2012, baru mencapai 38 %. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan India yang mencapai 58 persen, China 76 %, Polandia 80 %, dan Afrika Selatan 87 %.

Ia berharap, dengan semakin banyaknya creative financing, pembangunan infrastruktur dapat lebih dipacu dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat. Pada Triwulan III-2017 sendiri, sektor investasi tumbuh cukup tinggi yaitu 7 % dimana sektor konstruksi juga tumbuh 7 %, yang mulai menunjukkan kontribusinya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Stok infrastruktur kita ketinggalan jauh. Dan yang lebih gawat, kita bukan dalam proses naik tapi menurun karena pada 1965 stok infrastruktur kita hampir separuh dari PDB yaitu 49 %, setelah reformasi malah turun, pada 2012 tinggal 38 %. Memang PDB kita bertambah, tapi kita ingin melihat infrastruktur sebagai pendorong GDP,” pungkas Bambang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 − 4 =